Jam dinding kantor sudah menunjukan pukul 7 malam.
Kantor sudah cukup sepi. Sepertinya hanya ada aku, beberapa staff dan cleaning service yang masih tinggal. Ini sudah 3 jam lebih melewati jadwal pulang kerja.
Sebenarnya hari ini tidak ada tugas atau deadline yang harus kukerjakan. Hari ini aku hanya ingin tinggal di kantor lebih lama.
Duduk di ruang kerjaku menghadap kaca jendela yang membentangkan suasana kota Jakarta dengan kilauan lampu - lampu yang berasal dari gedung - gedung tinggi atau dari kendaraan yang ‘menumpuk’ di ruas jalan , itu cukup indah untuk dilihat dari posisi ruang kerjaku tapi lain cerita kalo aku yang menjadi salah satu dari kendaraan yang ‘menumpuk’ di bawah sana.
Hari ini aku lelah tapi aku tak ingin cepat pulang ke rumah. Ponselku saja tak ku aktifkan.
Teman - teman kantor yang satu ruangan denganku sudah satu persatu pamit pulang.
Ku sandarkan punggungku sambil kupejamkan mata. Mengingat apa yang terjadi kemarin malam.
Mengingat detail semua percakapan kita.
Mengingat bahasa tubuh dan tatapan matamu.
Mengingat semua kalimat yang keluar dari mulutku. Aku hanya berharap, tak ada kata penyesalan esok hari. Walaupun kenyataannya dada ku sesak mengingatnya. Keputusanku untuk berhenti dari permainan ini , kuharap itu yang terbaik.
Dari awal aku sadar, kita sadar. Hubungan ini salah, dan dosa terbesar. Tak seharusnya kita memulai semuanya. Menghalalkan segala cara untuk bertemu, menghalalkan semua bentuk perhatian, menghalalkan keegoisan kita untuk menjalin hubungan.
Aku mencintaimu memang tanpa rencana dan tanpa alasan, kau pun begitu. Semua terjadi begitu saja diluar kendali kita berdua.
Membohongi wanitamu dan lelakiku, menjadi hal lumrah yang kita lakukan. Menyembunyikan segala bentuk kasih sayang ini dari orang lain. Menyembunyikan hubungan ini dari siapapun.
Kita pandai sekali melakukan semua bentuk dan tata cara permainan ini. Semakin lama semakin mahir kita melakukannya. Kita menikmati setiap detik yang kita punya, bahkan kita sudah tak peduli rasa sakit ketika aku bersamanya atau kau sedang bersama dia.
Kita sama sekali tak peduli. Yang kita tau, kita saling mencintai.
Permainan ini berlangsung berbulan bulan. Semakin hari kau dan aku semakin terlena untuk tetap bersama.
Semakin hari kau dan aku semakin yakin bahwa kita tak ingin saling melepas.
Tapi semakin hari aku , hanya aku yang merasa berdosa. Berdosa atas semua tingkah lakuku.
Aku yang tak pandai menghianati siapapun , sekarang menjadi penghianat kelas kakap.
Sungguh aku mencintaimu, tapi aku tak ingin menghianati siapapun.
Aku bahkan tak peduli dengan rasa sakitku, tapi entahlah rasa sakit dia membuatku merasa berdosa.
Dan akhirnya ku bulatkan keputusanku kemarin malam. Kuputuskan semua tentang kau dan aku harus berhenti sampai disini.
Entah apa jadinya hidupku tanpamu. Tapi, aku tak bisa bernaung di dua hati. Kau pun begitu.
Kita manusia manusia berpendidikan, dilahirkan dengan hati yang bersih , dan berasal dari keluarga yang saling menghargai.
Tak nyaman rasanya ketika sengaja melakukan kesalahan yang bisa menyakiti hati orang lain.
Kubiarkan hatiku saja yang sakit. Kali ini aku relakan dirimu dan semua kenangan tentang kita. Permainan ini harus berakhir.
Jalani saja takdir kita masing masing.
Kita memang ditakdirkan saling mencintai tapi tidak untuk saling memiliki.
Ku mohon maafkan aku. Aku yang menyerah lebih dulu.
Komentar
Posting Komentar