Langsung ke konten utama

#AWAL #NBCPALEMBANG

“Kenapa bertanya seperti itu” katamu

aku pun menghela nafas

“Aku hanya ingin memastikan. Apa statusmu sekarang? Apa benar kamu punya pacar?” tanyaku sekali lagi.

“Apa status itu penting?” tanyamu lagi

“Jelas” jawabku singkat. Hampir 15 menit percakapan kita di telpon dan kau hanya memutar mutar pembicaraan tanpa memberi jawaban yang kuinginkan.

“Jujurlah. Aku takkan marah” tambahku lagi. Padahal hatiku sedang panas dingin. Berharap kau menjawab bahwa kau tak punya ikatan dengan perempuan manapun.

“Hmm kalo dibilang aku punya pacar jawabannya tidak, tapi kalo dibilang aku single juga tidak.”
jawabmu seenaknya.

“Maksudnya?” aku masih berusaha sesantai mungkin.

“Aku tak menyayanginya. Hubungan kami hanya sebatas status dan itu tak berarti untukku” jelasmu

Deg ! Sudah kuduga kau punya pacar. Tiba - tiba mataku terasa panas. Tapi kutahan agar tidak tumpah.
“Kenapa kau tak jujur dari awal?” tanyaku dingin

“Aku bukan tak jujur. Aku hanya tak bilang kepadamu.”  kilahmu

Aku hanya diam. Habis sudah tenagaku untuk perdebatan ini. Aku takkan menang jika berdebat denganmu.

“Besok aku kerumahmu. Kita bahas besok ya ?” katamu

Lagi - lagi aku diam.

“Boleh ?” tanyamu

“Haloo ?”

“Sa ? Risa?” panggilmu

“Baiklah. Kerumah saja” jawabku pelan

“Oke. Tidurlah, aku mohon jangan begadang.” katamu

“Iya. Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam" Jawabmu

Tuut. Tuut. Tuut.
Telpon pun terputus. Jam sudah menunjukan pukul setengah 12 malam.
Kutarik selimutku sampai ke leher. Ponselku pun berbunyi menandakan ada pesan masuk dan itu dari mu.

“Jangan lupa janjimu untuk berhenti begadang. Tidurlah.”

“Iyaa.” balasku.

Setelah membalas pesanmu. Langsung saja kumatikan ponsel ku.
Bagaimana mungkin aku bisa tidur cepat setelah tau kenyataan bahwa kau punya kekasih. Kenapa setelah sejauh ini, aku baru mengetahuinya.? 
Mataku pun menerawang jauh menatap langit langit kamar , pikiranku mengingat detail semua hal yang terjadi di hubungan kita.

Dari awal sebenarnya aku selalu bertanya tanya maksud dan tujuanmu menjalin pertemanan yang nyaris melewati batas seperti ini. Dengan alasan menjadikanku teman curhat, tapi hampir setiap hari kau sempatkan untuk main kerumahku. Bukan hanya itu, perhatian yang tidak dilakukan oleh seorang teman melalui pesan dan telpon ketika kita jauh juga selalu kau berikan.

Jujur, saat pertama kita kenal dan menjadi teman. Aku sudah membentengi hatiku dengan tembok yang sangat kokoh. Namun, sikapmu padaku perlahan mengikis tembok yang kubangun. Sungguh aku menjadi wanita yang lemah saat itu.

Pernah malam hari, malam dimana kau yang baru saja pulang dari luar kota dan itu sudah larut sekali, jam 1 malam mungkin.
Kau tiba - tiba bilang ada di depan rumahku. Ingin mengantar pizza katamu.
Akhirnya aku pun keluar rumah menghampirimu yang sudah berdiri di depan pagar. Kau berikan aku 2 kotak pizza berukuran jumbo. Oleh oleh katamu, aku pun tertawa dan berterima kasih. Kau pun langsung pamit pulang karna mau mandi dan tidur. Katamu kau lelah sekali karna perjalanan luar kota yang hampir 8 jam. 
Ehm.. lagian siapa juga yang nyuruh mampir kerumah nganter pizza tengah malam. Hahaha tapi hal kecil itu membuatku senyum senyum sendiri. Bahagia.

Aahh.. Kalau di ingat - ingat masih banyak lagi hal kecil yang kau lakukan dan membuatku terenyuh. Bagaimana mungkin aku bisa curiga dan mengira bahwa status kau saat itu sudah milik wanita lain?
Tak ada tanda tanda sedikitpun. Atau ? hanya aku saja yang buta? entahlah .

Dan pernah di dalam pesan singkatmu padaku, kau bilang bahwa kau ingin membahagiakanku tak peduli bagaimanapun caranya. Kau pun lanjut bertanya "kamu mau kan aku bahagia-in ?”
Dengan yakin sambil senyum senyum sendiri kubalas pesanmu bahwa aku mau.

Singkat cerita kedekatan kita semakin menjadi jadi. Hampir setiap hari kita bertemu. Perlahan aku pun akrab dengan keluarga mu, begitupun kamu yang juga dekat dengan adik adikku. Aku pikir ini awal yang indah dalam cerita cintaku. Ternyata ... 

Sampai suatu hari, ada 1 nama akun facebook perempuan yang menandai foto dan mengomentari postingan di beranda facebookmu.
Dengan rasa ingin tau yang sangat tinggi, aku mulai mencari tau tentang perempuan itu. Ternyata dia teman 1 kampus mu. Ku cari tau lebih dalam lagi dan ternyata kalian sudah hampir 6 tahun berpacaran. Aku terdiam. 

Di situ aku menyadari bahwa dari awal semua hanya permainan dan aku terjebak di dalamnya.
Seharusnya dari awal aku sudah mencari tau tentangmu lebih dalam. Lebih jauh lagi.
Seharusnya dari awal aku tak pernah membukakan pintu rumahku untukmu.
Seharusnya dari awal aku tak pernah berharap lebih.
Seharusnya dari awal tembokku takkan hancur hanya karna sentuhan perhatian murahan darimu.
Dan sekarang aku sadar bahwa dari awal kau tak pernah menyayangiku.

Sungguh aku ingin memutar waktu. Ku tutup mataku berusaha untuk melupakan semuanya sebentar dan tertidur.

Keesokan harinya kau benar datang kerumah.
Seperti yang sudah kau bilang di telpon malam tadi.
Dengan suasana hati yang tak sama seperti pertemuan pertemuan kemarin, aku masih berusaha santai saat menemuimu. Setelah kubuatkan kau secangkir kopi, aku pun ikut duduk di kursi teras. Jarak kita hanya sebatas meja kecil yang di atasnya kutarok gelas kopi dan toples berisi kacang telur buatan mama.

“Jadi masih pengen bahas soal semalem?” tanyamu akhirnya

“Kalo menurut kamu gak perlu dibahas yaudah gak usah dibahas” jawabku tanpa melihatmu.
Pandanganku hanya tertuju kedepan mengamati tembok rumah tetangga.

“Sebelumnya aku tanya, emang status itu penting? emang status pacaran itu ada di KTP dan terdaftar di pemerintah? enggak kan?” tanyamu panjang

“Enggak” jawabku

“Yaudah kalo nggak. berarti kan nggak penting” katamu santai

Ingin rasanya ku lempar toples yang ada di atas meja ini ke mukamu.

"Kenapa nggak pernah ngomong ke aku?" tanyaku

"Karna nggak penting. Aku cuma kasihan, dia udah baik banget ke aku dan keluarga." katamu

"Hmm, baiklah. Tidak usah diperpanjang lagi. Aku paham"  jawabku akhirnya. 

Hanya itu kalimat yang sanggup aku keluarkan.  Aku juga tak ingin mendengar cerita dan alasan panjang tentang hubungan kau dengan kekasihmu itu.
Lagian aku bisa apa? mau menuntut apa aku darimu? hubungan kita memang hubungan tanpa status, persahabatan yang melewati batas. Tak ada sesuatu yang perlu ku tuntut. Dan akhirnya aku hanya bisa diam.
Entahlah, ketika berhadapan denganmu aku selalu menjadi perempuan yang kaku dan diam. Tidak punya keberanian untuk marah atau membantah. 

Setelah itu aku hanya sibuk dengan ponselku sendiri. Sesekali menanggapimu saat kamu bertanya dan bercerita hal - hal yang sebenarnya malas sekali ku dengar. Biasanya aku sangat antusias mendengarmu bercerita tentang apa saja. Tapi tidak malam ini.

Akhirnya kau memutuskan untuk pamit pulang. Setelah mengantarmu dan menutup pintu rumah, aku pun masuk ke kamar. 

Malam ini kuputuskan untuk menutup pintu hatiku dan pintu rumahku. 
Sungguh aku kecewa, kecewa pada diriku sendiri dan kecewa padamu. Aku berhenti. 
Aku bukan perempuan yang mempunyai tekad kuat untuk mempengaruhi seorang lelaki agar memutuskan pacarnya dan lebih memilihku. Aku tidak seperti itu.

Hari demi hari kita semakin jauh. Setiap kamu datang ke rumahku, aku selalu sembunyi di dalam kamar. Dan akhirnya aku menyuruh mama berbohong dan bilang padamu bahwa aku sedang tidak ada dirumah. Hari-hari berikutnya terus seperti itu. Pesanmu pun jarang kubalas. Telpon darimu tak pernah kuangkat. 
Tak hanya pesan darimu, tapi pesan dari adik dan kakak sepupumu pun juga kubalas seadanya. Apalagi ketika mereka mengajakku ngumpul dan makan bersama, aku selalu berusaha untuk menolaknya dengan berbagai alasan.
Sungguh ini berat bagiku. Karna ini kali pertama aku menjalin dekat hubungan keluarga dengan seorang lelaki. Berat bagiku untuk tiba tiba menjauh. Tapi ini harus kulakukan, demi harga diriku dan demi perempuan lain.

Aku memutuskan untuk menjadi temanmu saja. Teman yang benar - benar teman. Tanpa embel - embel lain. Aku ingin semua kembali seperti dulu sebelum kita dekat. Hanya teman biasa dan saling menyapa basa basi ketika bertemu. Tidak perlu bertukar kabar dan perhatian. Dan tidak perlu bertemu setiap hari.

Sampai pada suatu malam, setelah hampir 3 bulan kita tidak pernah bertemu. Akhirnya malam itu tidak sengaja kita bertemu di satu acara teman. Temanku yang juga temanmu. Saat itu tiba - tiba kau menarik tanganku dan mengajakku keluar cafe menjauh dari teman - teman lain. Aku pun cukup terkejut tapi akhirnya kuikuti langkahmu keluar.

"Kamu kenapa?" tanyamu padaku tiba - tiba.

"Aku ? Nggak kenapa - kenapa kok" jawabku santai sambil tersenyum

"Serius Risa... Kenapa kamu menjauh? Aku punya salah?" tanyamu lagi

"Perasaanmu saja. Nggak ada yang menjauh dan nggak ada yang salah" jelasku 

"Kalo aku punya salah. Aku minta maaf." katamu serius

"Nggak usah lebay. Hahaha nggak ada yang salah kok" jawabku sambil tertawa kecil

Kau pun menghela nafas. Wajahmu menandakan bahwa kamu tidak puas dengan jawabanku. Dan akhirnya aku permisi untuk masuk ke dalam cafe dan menemui teman temanku yang lain.

Malam itu kuputuskan untuk menjadi akhir hubungan kita dan menjadi awal langkahku yang baru. Awal langkahku menjadi seorang perempuan yang lebih hati - hati lagi dalam mengambil setiap  keputusan.

Sungguh aku lelah dengan semua drama murahan seperti ini.  Jika memang sudah waktunya , aku hanya ingin bertemu 1 lelaki yang memintaku menjadi istrinya saja tanpa drama. 
Seorang lelaki yang bersedia membangun kehidupan baru bersamaku dan nantinya yang akan menjadi awal bahagia. Awal yang tak pernah mengenal akhir.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keahlianmu dan Keahlianku.

Jika keahlianmu adalah membuat semua orang senang maka keahlianku disenangkan olehmu Jika keahlianmu adalah menyepelekan rasa peduli  maka keahlianku mempedulikanmu berkali kali Jika keahlianmu adalah meminta maaf maka keahlianku menjadi sebaik baiknya pemaaf Jika keahlianmu adalah meninggalkan maka keahlianku menetap Jika keahlianmu adalah meninggikan gengsi maka keahlianku menaklukan gengsi Jika keahlianmu adalah berbicara banyak maka keahlianku menutup mulut Jika keahlianmu adalah menggunakan logika maka keahlianku menggunakan hati Jika keahlianmu membuatku tertawa maka keahlianku selalu siap tertawa Jika keahlianmu adalah menolong orang  maka keahlianku meminta pertolongan Jika keahlianmu adalah memberi harapan maka keahlianku mendoakan harapan Jika keahlianmu adalah mengukir mimpi mimpi maka keahlianku mewujudkan mimpi mimpi Jika keahlianmu adalah bernyanyi maka keahlianku menikmati nyanyian Jika keahlianmu adalah pergi...

Permainan #NbcPalembang

Jam dinding kantor sudah menunjukan pukul 7 malam. Kantor sudah cukup sepi. Sepertinya hanya ada aku, beberapa staff dan cleaning service yang masih tinggal. Ini sudah 3 jam lebih melewati jadwal pulang kerja.  Sebenarnya hari ini tidak ada tugas atau deadline yang  harus kukerjakan. Hari ini aku hanya ingin tinggal di kantor lebih lama.  Duduk di ruang kerjaku menghadap kaca jendela yang membentangkan suasana kota Jakarta dengan kilauan lampu - lampu yang berasal dari gedung - gedung tinggi atau dari kendaraan yang ‘menumpuk’ di ruas jalan , itu cukup indah untuk dilihat dari posisi ruang kerjaku tapi lain cerita kalo aku yang menjadi salah satu dari kendaraan yang ‘menumpuk’ di bawah sana. Hari ini aku lelah tapi aku tak ingin cepat pulang ke rumah. Ponselku saja tak ku aktifkan.  Teman - teman kantor yang satu ruangan denganku sudah satu persatu pamit pulang. Ku sandarkan punggungku sambil kupejamkan mata. Mengingat apa yang terjadi kemarin mala...

#AprilNulis NBC Palembang. (Tema : LAGU)

Kan kuabaikan s'gala hasratku Agar kau pun tenang dengannya Ku pertaruhkan semua ragaku Demi dirimu bintang Sejak 15 menit yang lalu aku berada di tengah macetnya jalan ibukota, di temani obrolan dua penyiar radio dan putaran putaran playlist lagu sebagai senjata mereka untuk menghibur manusia manusia seperti ku yang sedang terjebak macet. Lagu yang sedang di putar sekarang milik band Anima berjudul Bintang. Lagu ini pernah aku nobatkan sebagai lagu kebangsaan yang artinya lagu favorit ku. Tapi,sayangnya aku lupa kapan terakhir kali aku mendengarnya. Mungkin 5 atau 6 tahun yang lalu. Biarkanku menggapaimu, memelukmu Memanjakanmu Tidurlah kau di pelukku, di pelukku Di pelukku Ku besarkan volume tape radio mobilku. Sambil bersenandung sendiri, aku ikuti suara sang vokalis walaupun sedikit kacau karna aku yang lupa lirik lagu nya. Tanpa ku sadari satu senyuman tersungging di bibir, seolah olah sedang menertawai diriku sendiri. Karna lagu ini membuat ingatanku berputar ...