#AprilMenulis - Hadiah
Sudah tiga tahun ini aku tidak pernah menerima hadiah semenjak perginya Papa ke surga.
Sejak kecil Papa selalu saja memanjakanku dengan hadiah hadiah kecil yang ia bawa sepulang kerja. Entah itu hadiah ulang tahun , hadiah kenaikan kelas, atau bahkan hadiah karna aku berhasil berpuasa di bulan Ramadhan.
Hadiah yang ku dapat juga bukan hadiah mewah. Bukan barang mahal atau ber merek. Kadang hanya sebuah sticker kartun lucu favorit ku. Atau hanya es krim kesukaanku. Tapi papa selalu punya cara untuk membuatku merasa senang dengan hadiah hadiah kecil pemberiannya.
Malam ini, aku teringat bahwa dulu kami pernah saling berjanji. Aku berjanji akan lulus kuliah di waktu yang tepat dengan nilai yang sangat memuaskan adalah hadiah terbaik yang akan aku berikan ke papa saat papa datang ke wisuda ku. Dan papa juga berjanji, bahwa papa akan jadi pria tertampan yang akan menemani aku saat naik ke pelataran megah di hari pernikahanku.
Aku tersenyum getir mengingat nya. Mengingat kedua janji itu. Janji yang tidak bisa di wujudkan. Karna beberapa bulan sebelum aku di wisuda, Allah memanggil Papa lebih dulu.
Satu hadiah yang aku rindukan dari semua hadiah yang pernah ia berikan yaitu senyuman terbaiknya.
Komentar
Posting Komentar