Langsung ke konten utama

Tumpukan Surat #AprilNulis @NBCPalembang

Sore itu hujan turun begitu merdu, bernada indah, tanpa gemuruh petir. Suara rintiknya yang menyentuh atap rumah terasa nyaman di telinga. Seperti biasa , sore itu sepulang beraktivitas di kantor aku menghabiskan waktu di kamarku. Jika sedang tidak ada tugas kantor aku hanya menonton drama korea, membaca tumpukan novel, menscroll timeline twitter dan menulis surat.

"Kamu nulis surat? Untuk apa dan untuk siapa?"
"Menulis surat di jaman sekarang, menurutku itu hal yang langka"
"Atau menulis surat salah satu hobi mu selain membaca novel dan menonton drama?"
"Kamu ini ada ada saja seperti kurang kerjaan"

Ya begitulah komentar dari beberapa temanku yang mengetahui aktivitas rutinku itu. Menulis surat.
Memang terdengar aneh, unik, atau langka? Entahlah, aku tidak terlalu peduli. Karna aktivitas menulis surat ini sudah aku lakukan semenjak duduk di bangku Kuliah, tepatnya saat aku semester 4 atau lebih tepat lagi saat aku genap berusia 20 tahun.

Tidak banyak teman temanku yang tahu akan hobiku ini pun keluargaku. Tidak bermaksud merahasiakan, hanya saja aku sedkit sulit menjelaskan alasanku menulis surat. Menulis tanpa mengirimnya, itu lebih terdengar aneh lagi. Karena, dimana mana surat itu pasti untuk dikirim ke suatu tujuan. Tapi tidak denganku.

Surat surat ini seperti buku diary, hanya saja aku kemas dalam bentuk surat dan dimasukan ke dalam amplop yang beraroma romantis persis surat cinta. Setelah aku menulis, suratnya aku tumpuk di satu kardus yang aku bungkus dengan kertas kado biar terlihat lebih menarik dan rapi.
Entah sudah berapa ratus surat yang tertumpuk di dalam kotak kardus ini. Aku saja tak mengingat jumlah nya apalagi isi nya.

Di setiap sudut surat, aku selalu menulis 'Teruntuk kamu Cinta Terakhirku'. Jika kalian bisa menebak, surat surat yang aku tulis ini akan aku berikan kepada suamiku kelak. Aku ingin berbagi semua kisah hidupku bersamanya, karna bercerita secara lisan aku rasa kurang disebabkan memori ingatan manusia yang  tidak bisa menampung semua kejadian secara detail setiap harinya. Nah, surat-surat ini lah yang akan menceritakan semua perjalanan hidupku kepada suamiku nanti.

Isi cerita di dalam surat-suratku begitu sederhana, mulai dari aku yang kelaparan karna uang jajan bulananku habis, di marahi dosen atau dimarahi ibu kos , di tembak teman sekelas, minggat saat mata kuliah berlangsung,  bahagianya aku saat lulus kuliah, atau bahkan ketika aku naksir dengan kakak senior di tempat kerjaku pun aku ceritakan di surat-surat ini. Tidak penting memang, tapi hanya itulah menurutku cara yang paling tepat dan juga unik berbagi kisah hidup dengan pasangan hidup.

Dan surat sore ini sudah selesai ku tulis, aku lipat rapi dan kuselipkan ke dalam amplop seperti biasa. Isi surat sore  ini, tentang harapan. Harapan kepada seseorang untuk segera datang dan membaca semua tumpukan surat-surat kecil ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku harus apa?

Apa yang harus aku lakukan ? Sungguh kadang aku berharap suatu hari atau mungkin sekarang tiba-tiba kau mengucapkan salam perpisahan atau kalimat seperti “bahagialah tanpa aku”. Maka mungkin aku akan sangat lega. Sungguh aku lebih berharap hal seperti ini yang kau lakukan. Tak perlu dipikirkan bagaimana rasa sakitnya, aku sudah sangat mahir menghadapinya. Tapi, entah kenapa kalimat seperti itu tidak pernah terlontar dari mulutmu. Cukup bilang “pergilah” , “jangan pernah berharap bs hidup denganku” atau “aku sama sekali tidak menyayangimu”. Ku rasa itu hal yang tidak sulit untuk dilakukan oleh lelaki sepertimu bukan? Kejam lah kepadaku tanpa perlu ragu. Justru itu yang lebih aku butuhkan dibanding bertahan seperti ini tanpa satu alasan yang jelas. Kenapa? Apa karna kasihan? tidak tega ?  Aku tidak butuh rasa kasihan, tidak perlu begitu. Justru rasa kasihan itu mengubahmu menjadi harus pura - pura peduli. Padahal sejatinya tak ada sedikit pun rasa pedulimu ke...

Resolusi 2016 ?

Hello 2016 ! Finally, tahun berganti lagi. Punya resolusi apa untuk tahun ini? Pasti semua orang punya banyak resolusi. How about me ? I don't have resolution for this year . Why ????? Because, life is life. Hidup adalah hidup. Tanpa resolusi pun hidup akan terus berjalan, waktu terus berputar dan tahun akan berganti lagi. Jalani apa yang ada. Hadapi semua yang akan terjadi. Target ? Keinginan ? Cukup di simpan di hati dan pikiran. Jangan di jadikan beban. Karna tidak semua rencana kita akan sama dengan rencana Tuhan. Cukup jalani hidup yang ada, dan tetap melakukan yang terbaik. Percayalah. Jika kita terus berusaha melakukan yang terbaik, hadiah terindah akan kita dapat tanpa terduga. Reward dari Tuhan itu lebih indah dari apapun. So, mulai sekarang aku akan berusaha lebih keras agar mimpi tak hanya menjadi mimpi. Life must go on !!!

Tanda Tanya ?

Dingin. Sesak. Sepi. Tak bersuara. Ku buka perlahan kedua mataku. Tubuhku terasa dingin. Tapi dahi ku berpeluh. Nafasku tersengal sengal. Aku memutar ingatanku. Mencoba berpikir apa yang terjadi. Oh. Ternyata untuk kesekian kalinya kau masuk ke alam bawah sadarku. Tiga hari terakhir ini bayanganmu yang tanpa permisi, mengusik tidurku. Yang kuingat satu tahun terakhir ini aku tak pernah memikirkanmu apalagi merindukanmu. Entahlah , dulu aku bersikeras untuk melupakanmu. Semua usaha aku lakukan, tapi hasilnya nihil. Dan sekarang, seiring berjalannya waktu sedikit pun tak ada rasa rindu. Mungkin semenjak rasa ikhlas dan kecewa telah menjadi satu, maka dari itu hati dan otakku pun berkerjasama untuk tak mengingatmu lagi. Sekarang, aku bingung. Apa arti dari mimpiku? Kenapa selalu ada kamu didalamnya? Kenapa kamu datang? Hanya satu yang terbesit dipikiranku 'apa kamu sedang dalam keadaan tidak baik? ' . Inginku menyapamu sekedar memastikan. Tapi kuurungkan...