Sore itu hujan turun begitu merdu, bernada indah, tanpa gemuruh petir. Suara rintiknya yang menyentuh atap rumah terasa nyaman di telinga. Seperti biasa , sore itu sepulang beraktivitas di kantor aku menghabiskan waktu di kamarku. Jika sedang tidak ada tugas kantor aku hanya menonton drama korea, membaca tumpukan novel, menscroll timeline twitter dan menulis surat.
"Kamu nulis surat? Untuk apa dan untuk siapa?"
"Menulis surat di jaman sekarang, menurutku itu hal yang langka"
"Atau menulis surat salah satu hobi mu selain membaca novel dan menonton drama?"
"Kamu ini ada ada saja seperti kurang kerjaan"
Ya begitulah komentar dari beberapa temanku yang mengetahui aktivitas rutinku itu. Menulis surat.
Memang terdengar aneh, unik, atau langka? Entahlah, aku tidak terlalu peduli. Karna aktivitas menulis surat ini sudah aku lakukan semenjak duduk di bangku Kuliah, tepatnya saat aku semester 4 atau lebih tepat lagi saat aku genap berusia 20 tahun.
Tidak banyak teman temanku yang tahu akan hobiku ini pun keluargaku. Tidak bermaksud merahasiakan, hanya saja aku sedkit sulit menjelaskan alasanku menulis surat. Menulis tanpa mengirimnya, itu lebih terdengar aneh lagi. Karena, dimana mana surat itu pasti untuk dikirim ke suatu tujuan. Tapi tidak denganku.
Surat surat ini seperti buku diary, hanya saja aku kemas dalam bentuk surat dan dimasukan ke dalam amplop yang beraroma romantis persis surat cinta. Setelah aku menulis, suratnya aku tumpuk di satu kardus yang aku bungkus dengan kertas kado biar terlihat lebih menarik dan rapi.
Entah sudah berapa ratus surat yang tertumpuk di dalam kotak kardus ini. Aku saja tak mengingat jumlah nya apalagi isi nya.
Di setiap sudut surat, aku selalu menulis 'Teruntuk kamu Cinta Terakhirku'. Jika kalian bisa menebak, surat surat yang aku tulis ini akan aku berikan kepada suamiku kelak. Aku ingin berbagi semua kisah hidupku bersamanya, karna bercerita secara lisan aku rasa kurang disebabkan memori ingatan manusia yang tidak bisa menampung semua kejadian secara detail setiap harinya. Nah, surat-surat ini lah yang akan menceritakan semua perjalanan hidupku kepada suamiku nanti.
Isi cerita di dalam surat-suratku begitu sederhana, mulai dari aku yang kelaparan karna uang jajan bulananku habis, di marahi dosen atau dimarahi ibu kos , di tembak teman sekelas, minggat saat mata kuliah berlangsung, bahagianya aku saat lulus kuliah, atau bahkan ketika aku naksir dengan kakak senior di tempat kerjaku pun aku ceritakan di surat-surat ini. Tidak penting memang, tapi hanya itulah menurutku cara yang paling tepat dan juga unik berbagi kisah hidup dengan pasangan hidup.
Dan surat sore ini sudah selesai ku tulis, aku lipat rapi dan kuselipkan ke dalam amplop seperti biasa. Isi surat sore ini, tentang harapan. Harapan kepada seseorang untuk segera datang dan membaca semua tumpukan surat-surat kecil ini.
"Kamu nulis surat? Untuk apa dan untuk siapa?"
"Menulis surat di jaman sekarang, menurutku itu hal yang langka"
"Atau menulis surat salah satu hobi mu selain membaca novel dan menonton drama?"
"Kamu ini ada ada saja seperti kurang kerjaan"
Ya begitulah komentar dari beberapa temanku yang mengetahui aktivitas rutinku itu. Menulis surat.
Memang terdengar aneh, unik, atau langka? Entahlah, aku tidak terlalu peduli. Karna aktivitas menulis surat ini sudah aku lakukan semenjak duduk di bangku Kuliah, tepatnya saat aku semester 4 atau lebih tepat lagi saat aku genap berusia 20 tahun.
Tidak banyak teman temanku yang tahu akan hobiku ini pun keluargaku. Tidak bermaksud merahasiakan, hanya saja aku sedkit sulit menjelaskan alasanku menulis surat. Menulis tanpa mengirimnya, itu lebih terdengar aneh lagi. Karena, dimana mana surat itu pasti untuk dikirim ke suatu tujuan. Tapi tidak denganku.
Surat surat ini seperti buku diary, hanya saja aku kemas dalam bentuk surat dan dimasukan ke dalam amplop yang beraroma romantis persis surat cinta. Setelah aku menulis, suratnya aku tumpuk di satu kardus yang aku bungkus dengan kertas kado biar terlihat lebih menarik dan rapi.
Entah sudah berapa ratus surat yang tertumpuk di dalam kotak kardus ini. Aku saja tak mengingat jumlah nya apalagi isi nya.
Di setiap sudut surat, aku selalu menulis 'Teruntuk kamu Cinta Terakhirku'. Jika kalian bisa menebak, surat surat yang aku tulis ini akan aku berikan kepada suamiku kelak. Aku ingin berbagi semua kisah hidupku bersamanya, karna bercerita secara lisan aku rasa kurang disebabkan memori ingatan manusia yang tidak bisa menampung semua kejadian secara detail setiap harinya. Nah, surat-surat ini lah yang akan menceritakan semua perjalanan hidupku kepada suamiku nanti.
Isi cerita di dalam surat-suratku begitu sederhana, mulai dari aku yang kelaparan karna uang jajan bulananku habis, di marahi dosen atau dimarahi ibu kos , di tembak teman sekelas, minggat saat mata kuliah berlangsung, bahagianya aku saat lulus kuliah, atau bahkan ketika aku naksir dengan kakak senior di tempat kerjaku pun aku ceritakan di surat-surat ini. Tidak penting memang, tapi hanya itulah menurutku cara yang paling tepat dan juga unik berbagi kisah hidup dengan pasangan hidup.
Dan surat sore ini sudah selesai ku tulis, aku lipat rapi dan kuselipkan ke dalam amplop seperti biasa. Isi surat sore ini, tentang harapan. Harapan kepada seseorang untuk segera datang dan membaca semua tumpukan surat-surat kecil ini.
Komentar
Posting Komentar