Hampir empat tahun terakhir aku memilih menjalani hidup tanpa satu pria pun.
Aku memilih untuk berstatus sendiri berbeda dengan kehidupan teman temanku.
Aku memilih tidak berbagi hati kepada siapapun.
Aku memilih menutup hati untuk sementara waktu.
Menjalani kehidupan sehari hari bersama keluarga dan sahabat , menurutku lebih dari cukup.
Sampai pada akhirnya, aku rasa bahwa aku harus keluar dari zona nyaman. Dan mulai mencari pria seperti apa yang akan aku beri hati. Karna terlalu lelah jika harus jatuh kepada tipe tipe pria yang sama seperti sebelumnya.
Seperti sebelumnya itu seperti apa ?
Seperti pria yang penuh dengan bentuk perhatian (perhatian yang ternyata di umbar ke wanita manapun)
Pria yang mudah menggunakan kata kata manis
Pria yang mengaku berstatus sendiri padahal memiliki kekasih.
Pria yang dengan mudahnya berkata cinta.
Pria yang terlalu pandai berbicara (berlebihan).
Pria yang terlalu show off,
Begitulah kira kira. Aku lelah karna hampir semua pria yang aku temui seperti itu.
Dan di pertengahan tahun ini (2016). Intuisiku tertarik kepada satu pria introvert. Yang sebelumnya memang aku kenal tapi sangat jarang berbincang dengannya. Bisa di bilang hampir tidak pernah.
Entah dorongan dari mana aku tertarik untuk mengenalnya lebih dalam. Pria introvert sangat sulit didekati bukan? Jangankan membuka diri, bicara saja mereka sangat jarang.
Aku bertekad siap menerima semua konsekuensi hati, merendahkan diri dan ego. Berusaha membuatnya luluh. Mulai dari menegurnya di sosial media, memulai percakapan , mengajukan pertanyaan terus menerus , sabar menunggu balasan chat dari dia yang cukup lama, sabar karna tidak pernah diberi pertanyan balik, berpikir keras untuk mencari topik obrolan tiap kali ingin mengobrol dengannya, dan menerima ketika dia hanya membaca chat tanpa membalasnya. Intinya sering sering lah berlapang dada ketika berhadapan dengan pria seperti ini.
Kenapa aku tertarik? Karna introvert tidak pandai berkata kata manis, menegur orang saja mungkin malu apalagi merayu dan menggoda wanita lain.
Aku pikir aku bisa menaklukan nya. Membuka hatinya. Membuatnya nyaman. Membuatnya terbuka dan percaya. Walaupun semua hal harus dimulai dari aku sendiri.
Sulit sekali memang , bahkan sangaaaat sulit karna aku sudah dibuatnya jatuh hati. Seperti malam ini, aku sendiri bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Mengajaknya mengobrol di chat? Bingung dengan topik seperti apa yang harus aku bicarakan. Mengajaknya pergi ? Introvert tidak suka keramaian. Aaah entahlah, Allah sedang mengujiku atau hanya diriku sendiri yang mengujiku. Sulit sekali jatuh hati kali ini. Karna perjuangan dimulai bukan ketika sudah menjalin hubungan melainkan dimulai jauh sebelum memiliki hubungan.
Harapanku semoga hati ini tidak pernah menyerah untuk mendapatkan apa yang pantas aku dapatkan.
(South Sumatera, Sabtu, 10 September 2016)
Tulisan di atas tulisanku sekitar kurang lebih 9 bulan lalu. Hari ini (Rabu,07 Juni 2017) aku kembali menulis hal yang berkaitan dengan tulisan diatas.
Awalnya aku berpikir bahwa "setelah lampu merah, maka akan menyala lampu kuning kemudian lampu hijau". Ternyata setelah menunggu cukup lama, lampunya pun tak kunjung berubah warna.
Mau tidak mau aku berhenti di tempat, tanpa berani maju sedikitpun.
Tanpa punya tekad untuk menembus batasan yang ia buat. Tembok yang ia bangun terlalu tinggi dan keras. Aku tak punya kemampuan yang cukup untuk menerobosnya.
Kuputuskan untuk berhenti mengejarnya. Kuputuskan untuk pasrah dan ikhlas melepaskan impianku bisa berbagi cerita hidup dengannya.
Tak akan ku ganggu lagi kehidupannya yang begitu tertutup dan sulit ditebak. Kudoakan kebahagiaannya, semoga bisa mendapatkan pendamping hidup yang 'setara' dengannya.
Biarlah sampai nanti, ada satu nama lelaki yang bisa mendapatkan tempat dihatiku yang sudah kusiapkan untukmu ini. Tempat yang begitu rapi, kubiarkan tak berpenghuni sampai nanti ada yang bisa datang mengisi. Walau itu bukan kamu. Terimakasih karna beberapa bulan kemarin sudah mau membalas chat dariku. Terimakasih.
Komentar
Posting Komentar